Beranda > borobudur > Peringatan Hari Waisak di Candi Borobudur

Peringatan Hari Waisak di Candi Borobudur

Mei 29, 2010

Puncak acara perayaan Waisak 2554 BE/2010 Jumat (28/5), Candi Borobudur ditutup untuk umum selama kurang lebih empat jam. Rencananya ribuan umat Buddha akan mengikuti puja bhakti di batu berundak peninggalan Dinasti Syalendra itu.

Setiap agama tentu memiliki hari raya sendiri-sendiri. Seperti hari raya Waisak atau Waisaka yang merupakan hari suci agama Budha. Nama Waisak sendiri diambil dari bahasa Pali “Weshaka”, dan terkait juga dengan “Waishakha” dari bahasa “Sansekerta”, Dibeberapa tempat juga disebut dengan hari BUdha. Peringatan Waisak dibagi menjadi dua kegiatan utama. Kegiatan ritual bakti di pusatkan di Candi Mendut dan Borobudur.

Perayaan yang dilaksanakan dalam bulan Mei tepatnya tanggal 27-28, pada waktu terang bulan (purnama said) ini, untuk memperingati 3 peristiwa (Trisuci Waisak) :
1. Lahirnya Pangeran Siddharta di Lumbini Park tahun 623 S.M.,
2. Pada usia 35 tahun di tahun 588 S.M, Pangeran Siddharta Mencapai                           Penerangan Agung dan menjadi Budha Gaya (Bodhgaya).dan
3. Budha Gautama mangkat Di KUsinara pada tahun 543 S.M pada usia 80 tahun.

Perayaan Waisak di Indonesia dilaksanakan secara tradisional di pusatkan diKomplek Candi Borobudur Magelang, Jawa Tengah.
Rangkaian pokok perayaan Waisak nasional adalah :
1. Pengambilan air berkat dari mata air umbul Jumprit di Kabupaten Temanggung, serta penyalaan obor dengan sumber api abadi Mprapen Kabupaten Grobogan.
2. Ritual Pindatapa, pemberian bahan makanan kepada biksu oleh masyarakat (umat) untuk mengingatkan bahwa para biksu mengabdikan hidup tanpa bermata pencaharian.
3. Semadi pada detik-detik puncak bulan purnama. Penentuan bulan purnama ini berdasarkan perhitungan falak, sehingga puncak purnam bisa terjadi pada siang hari.

Bukan hanya tiga upacara pokok tersebut namun dilakukan pula pradaksina, pawai, dan kesenian.

%d blogger menyukai ini: